Palestina-Israel

1353237324276503408

Simbol kejayaan Israel dapat sepenuhnya menguasai tanah bangsa Palestina. (photo: AljazeeraTV)

Rangkaian peristiwa perang dimanapun berada di muka bumi ini sudah tentu mengisahkan kisah dalam penderitaan yang ada, baik itu yang dirasakan oleh pihak militer (pihak yang bertikai) maupun pihak warga sipil.

Perang tidak selamanya menjadi jalan untuk menuju perubahan sebuah tekat kebenaran, akan tetapi perang selalu menjadi alat terakhir untuk sebuah keputusan yang sudah sulit diatasi, baik secara diplomatik maupun dengan cara kerjasama lainnya, dan perang itu sendiri sampai zaman modern ini dijadikan sebuah jembatan politik untuk kekuasaan, penguasaan wilayah dan penguasaan ekonomi. Pada akhirnya perangpun harus menjadi tempat pengorbanan massal kepada jiwa-jiwa yang tidak berdosa.

Seperti yang kita ketahui sekarang, perang tengah berkecamuk kuat di wilayah Timur Tengah. Perang saudara dan juga perang adu gengsi politik maupun perang penguasaan wilayah teritorial. Dan hingga sampai saat ini pula perang-perang tersebut terus terjadi dan tidak sedikit memakan korban benda maupun nyawa yang melayang sia-sia.

Pada akhirnya kaum ibu, para orang tua dan anak-anak selalu menjadi sasaran empuk dalam peperangan, dan selalu kaum sipil yang tidak berdosa menjadi korban utamanya, ketimbang dari para militer yang bertikai di medan perang. Sementara itu para politisi juga para penguasa negara yang bertikai tetap asyik mengotak-atikan strategi bagai bidak catur yang tengah dimainkannya.

Perang Palestina dan Israel sendiri yang sejak awal bergulir Deklarasi Balfour pada 2 November 1917 silam, dan perang tersebut hingga kini masih terjadi.  Perang antara bangsa Palestina dan bangsa Israel itu terjadi dikarenakan pihak Inggris yang serta merta mencanangkan Deklarasi Balfour tersebut tanpa melihat latar belakang sebelumnya atas dampak yang akan terjadi dikemudian hari.  Dan dalam Deklarasi Balfour yang bergulir pada 2 November 1917  bagi pihak Israel (Yahudi) dan Abab adalah sebagai janji untuk mendirikan ” tanah air ” bagi kaum Yahudi di Palestina.

Dan konflik berkepanjangan antara Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya.

Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.

Dalam Deklarasi Balfour sebelumnya juga tercantum kalimat ketegasan mandat atas Palestina, atau juga dikenal sebagai Mandat atas Palestina atau Mandat Britania atas Palestina, adalah sebuah wilayah di Timur Tengah dari 1920 hingga 1948, yang kini terdiri atas wilayah masa kini dari Yordania, Israel, dan wilayah-wilayah yang diperintah oleh Otoritas Palestina, yang sebelumnya merupakan wilayah Kerajaan Ottoman, yang dipercayakan oleh Liga Bangsa-Bangsa kepada Britania Raya untuk diadministrasikan pada masa setelah Perang Dunia I sebagai sebuah Wilayah Mandat setelah runtuhnya Kesultanan Ottoman yang telah menguasai wilayah ini sejak abad ke-16.

Sebulumnya wilayah-wilayah tersebut diatas mulanya berbatasan dengan Laut Tengah di sebelah baratnya, Mandat Perancis atas Lebanon, Mandat Perancis atas Suriah, dan Mandat Britania atas Mesopotamia di sebelah utaranya, Kerajaan Arab Saudi di sebelah timur dan selatan, dan Kerajaan Mesir di barat dayanya.

Atas bergulirnya Deklarasi Balfour dari Inggris untuk bangsa Yahudi (Israel saat ini), akhirnya dijadikan sebuah momentum Israel yang lebih kuat untuk bisa leluasa menguasai wilayah-wilayah Arab tersebut. Namun Israel sebelumnya harus melewati pertempuran dasyat atas serangan awal dari bangsa-bangsa Arab lainnya. Dan Israel dapat kemenangan dalam pertempurannya, lalu pada akhirnya Israel mulai melakukan tindakan penguasaan di wilayah-wilayah Arab lainnya.

Perang Arab-Israel 1948, atau disebut juga sebagai ” Perang Kemerdekaan “ atau ” Perang Pembebasan ” oleh orang Israel, adalah konflik bersenjata pertama dari serangkaian konflik yang terjadi antara Israel dan tetangga-tetangga Arabny adalam konflik Arab-Israel. Bagi orang-orang Palestina, perang ini menandai awal dari rangkaian kejadian yang disebut sebagai ” Bencana ” (The Catastrophe).

Akan tetapi sebelum terjadinya peristiwa perang antara bangsa-bangsa Arab dengan Israel pada tahu 1948 tersebut, setahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1947, Dewan PBB memutuskan untuk membagi wilayah Mandat Britania atas Palestina. Tetapi hal itu ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah lainnya dan juga banyak negeri-negeri Muslim.

Dalam pembagian wilayah yang dikembangkan Dewan PBB dengan penguatan dasar Deklarasi Balfour, Israel mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Sedangkan kota Yerusalem yang dianggap suci, tidak hanya oleh orang Yahudi tetapi juga orang Muslim dan Kristen, akan dijadikan kota internasional.

Lalu setahun kemudian, pada tanggal 14 Mei 1948 Israel memproklamirkan kemerdekaannya, yaitu telah berdiri tanah dan negara Israel yang kuat dan berdaulat di wilayah Arab. Dan sehari kemudian langsung diserbu oleh tentara dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan negara Arab lainnya.

Tetapi Israel bisa memenangkan peperangan ini dan malah merebut kurang lebih 70% dari luas total wilayah daerah mandat PBB Britania Raya, Palestina. Perang ini menyebabkan banyak kaum Palestina mengungsi dari daerah Israel. Tetapi di sisi lain tidak kurang pula kaum Yahudi yang diusir dari negara-negara Arab lainnya.

Peperangan antara bangsa-bangsa di Arab dengan Israel hampir memakan waktu satu tahun lebih, sehingga terjadilah sebuah resolusi gencatan Dewan PBB untuk sebuah gencatan senjata, 3 April 1949. Namun dalam resolusi tersebut Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana Pemisahan dari PBB.

Resolusi genjatan senjata yang di tandatangini bersama oleh Israel dan bangsa-bangsa Arab dibawah payung Dewan PBB tersebut tidak berlangsung lama. Pada kenyataannya pihak Israel sendirilah yang menginkari perjanjian gencatan senjata tersebut. Israel masih melakukan berbagai serangan dan penguasaan wilayah-wilayah di Arab hingga sampai saat ini, termasuk pendudukan Israel di Palestina.

Israel semakin menggila atas kehebatannya yang telah berhasil banyak menguasai wilayah-wilayah kedudukannya atas tanah-tanah di wilayah Arab lainnya. Kegilaan Israel hingga saat ini masih tercermin buas untuk terus berusaha menghabiskan rakyat bangsa Palestina.

Pedudukan Israel terhadap kedaulatan Palestina membuat banyak penderitaan yang berkepanjangan dirasakan oleh rakyat Palestina. Pembantaian dan penghancuran rumah-rumah penduduk tidak berdosa setiap detik selalu dilakukan oleh militer Israel, baik dari darat, laut maupun udara. Sepertinya Palestina benar-benar dijadikan wilayah tumbal massal manusia bagi bangsa Israel sampai sekarang di abad 21 ini.

Kebengisan dan kezoliman yang dilakukan oleh zionis Israel terhadap bangsa Palestina membuat banyak bangsa-bangsa di dunia kegerahan dan geram, namun kegeraman bangsa-bangsa di dunia tidak berlangsung lama. Pasalnya Israel dengan kekuatannya selalu mendapatkan hak veto istimewah dari Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa lainya melalui sidang-sidang perdamaian di Dewan PBB dan pertemuan-pertemuan lembaga dunia lainnya. Israel benar-benar anak emas saat ini oleh Amerika Serikat dan Eropa.

Maka apa yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina hingga sampai detik ini masih tetap kuat bercokol untuk melakukan berbagai penindasan dan intimidasi terhadap rakyat Palestina. Hal itulah pada akhirnya rakyat Palestina sampai sekarang terus menerus melakukan perlawanan keras terhadap Israel dengan kekuatan yang ada.

1353237976964432889

Konflik pun mulai pecah dan PBB mencoba menengahi dengan mengajukan Rencana Pembagian Palestina menjadi dua negara terpisah, masing-masing satu untuk bangsa Arab dan Yahudi dengan Yerusalem sebagai kawasan netral yang berada di bawah pengawasan PBB. Pada 14 Mei 1948 bangsa Yahudi mendeklarasikan kemerdekaan sekaligus mendirikan negara Israel. Keesokan harinya, Mesir, Syria, Lebanon, dan Iran menggempur Israel yang menandakan dimulainya Perang Arab-Israel. Setahun kemudian diberlakukan gencatan senjata dan perbatasan sementara ditetapkan. Yordania mengambil alih wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur sedangkan Mesir menguasai Jalur Gaza. (ilustrasi: uniqpost.com)

Perlawanan rakyat Palestina diawali dengan adanya gerakan pemberontakan rakyat Palestina terhadap pendudukan zionis Israel di tahun 1987 sampai dengan tahun 1993, yaitu gerakan Intifadhah Pertama. Pemberontakan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel di Palestina pada tanggal 9 Desember 1987. Pemberontakan dimulai di kemah pengungsi Jabalia dan dengan cepat menyebar ke seluruh Gaza, Tepi Barat danYerusalem Timur.

Selanjutnya pada bulan September 2000, gerakan perlawanan rakyat Palestina dengan Intifadhahnya terus berlanjut. Pada September 2000 tersebut terjadi kembali gerakan rakyat Palestina melawan pendudukan zionis Israel yang tidak kunjung pergi dari tanah Palestina yang dikenal Intifadhah Kedua ( Intifadhah al-Aqsha ).

Intifadhah al-Aqsha sendiri adalah gelombang kerusuhan yang terjadi pada September 2000 antara orang Arab Palestina dan Israel. Dalam gerakan ini adalah sebagai perang pembebasan nasional bangsa Palestina terhadap pendudukan asing (zionis Israel).

Sebenarnya sampai saat ini, yaitu di detik-detik berakhirnya tahun 2012 ini, setiap gerakan-gerakan Intifadhah pertama dan kedua (Intifadhah al-Aqsha) masih terus berlanjut tanpa mengenal waktu kapan akan berakhirnya. Ya mungkin setelah zionis Israel pergi dari Palestina sepenuhnya. Dan mungkin pula setelah Israel keluar dari wilayah-wilayah bangsa Arab lainnya.

Sementara itu di KTT Sharm el-Sheikh, gencatan senjata yang disetujui oleh Presiden Mahmoud Abbas dan organisasi mujahidin Palestina, dan tingkat kekerasan yang relatif rendah selama 2005, dianggap sebagai akhirnya, secara umum dihubungkan dengan perubahan dalam pemerintahan Palestina menyusul kematianYasser Arafat dan penarikan mundur sepihak Israel.

Lalu pada 25 Januari 2006, Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina, dan tokoh Hamas Ismail Haniyah menjadi Perdana Menteri Palestina. Hal ini memicu kemarahan Israel dan Amerika Serikat, sehingga kekerasan kembali terjadi.

Pada Juni 2006 Israel kembali menginvasi Gaza dalam Operasi Hujan Musim Panas. Pada 26 November 2006 Israel dan kelompok militan Palestina menyetujui gencatan senjata. Pada Mei 2007 kekerasan kembali terjadi, menyusul serangan roket Qassam ke Israel, dan serangan udara Israel ke Gaza. Korban tewas dari militer dan sipil sepanjang konflik 2000-2007 diperkirakan 4.219 Palestina dan 1,024 Israel, meski jumlah dikritik ini karena tak membedakan antara penempur dan orang sipil.

*****

135323899137245706

Keangkuhan dan kesombongan zionis Israel tidak pernah berhenti untuk pemusnahan bangsa Palestina dan wilayah-wilayah Arab lainnya. (photo: vivanews)

Ego Israel  Tetap Menguatkan Pendudukannya Terhadap Palestina

Sejak Persetujuan Oslo, Pemerintah Israel dan Otoritas Nasional Palestina secara resmi telah bertekad untuk akhirnya tiba pada solusi dua negara. Masalah-masalah utama yang tidak terpecahkan di antara kedua pemerintah ini adalah:

    • Status dan masa depan Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur yang mencakup wilayah-wilayah dari Negara Palestina yang diusulkan.
    • Keamanan Israel.
    • Keamanan Palestina.
    • Hakikat masa depan negara Palestina.
    • Nasib para pengungsi Palestina.
    • Kebijakan-kebijakan pemukiman pemerintah Israel, dan nasib para penduduk pemukiman itu.
  • Kedaulatan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk Bukit Bait Suci dan kompleks Tembok (Ratapan) Barat.

Masalah pengungsi muncul sebagai akibat dari perang Arab-Israel 1948. Masalah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur muncul sebagai akibat dari Perang Enam Hari pada 1967.

Selama ini telah terjadi konflik yang penuh kekerasan, dengan berbagai tingkat intensitasnya dan konflik gagasan, tujuan, dan prinsip-prinsip yang berada di balik semuanya. Pada kedua belah pihak, pada berbagai kesempatan, telah muncul kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dalam berbagai tingkatannya tentang penganjuran atau penggunaan taktik-taktik kekerasan, anti kekerasan yang aktif, dll.

Ada pula orang-orang yang bersimpati dengan tujuan-tujuan dari pihak yang satu atau yang lainnya, walaupun itu tidak berarti mereka merangkul taktik-taktik yang telah digunakan demi tujuan-tujuan itu. Lebih jauh, ada pula orang-orang yang merangkul sekurang-kurangnya sebagian dari tujuan-tujuan dari kedua belah pihak.

Dan menyebutkan ” kedua belah ” pihak itu sendiri adalah suatu penyederhanaan Al-Fatah dan Hamas saling berbeda pendapat tentang tujuan-tujuan bagi bangsa Palestina. Hal yang sama dapat digunakan tentang berbagai partai politik Israel, meskipun misalnya pembicaraannya dibatasi pada partai-partai Yahudi Israel.

Mengingat pembatasan-pembatasan di atas, setiap gambaran ringkas mengenai sifat konflik ini pasti akan sangat sepihak. Itu berarti, mereka yang menganjurkan perlawanan Palestina dengan kekerasan biasanya membenarkannya sebagai perlawanan yang sah terhadap pendudukan militer oleh Israel yang tidak sah atas Palestina, yang didukung oleh bantuan militer dan diplomatik oleh A.S.

Banyak yang cenderung memandang perlawanan bersenjata Palestina di lingkungan Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai hak yang diberikan oleh persetujuan Jenewa dan Piagam PBB. Sebagian memperluas pandangan ini untuk membenarkan serangan-serangan, yang seringkali dilakukan terhadap warga sipil, di wilayah Israel itu sendiri.

Demikian pula, mereka yang bersimpati dengan aksi militer Israel dan langkah-langkah Israel lainnya dalam menghadapi bangsa Palestina cenderung memandang tindakan-tindakan ini sebagai pembelaan diri yang sah oleh bangsa Israsel dalam melawan kampanye terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas, Jihad Islami, Al Fatah dan lain-lainnya, dan didukung oleh negara-negara lain di wilayah itu dan oleh kebanyakan bangsa Palestina, sekurang-kurangnya oleh warga Palestina yang bukan merupakan warga negara Israel.

Banyak yang cenderung percaya bahwa Israel perlu menguasai sebagian atau seluruh wilayah ini demi keamanannya sendiri. Pandangan-pandangan yang sangat berbeda mengenai keabsahan dari tindakan-tindakan dari masing-masing pihak di dalam konflik ini telah menjadi penghalang utama bagi pemecahannya.

Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan oleh Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 “ reservasi “.
Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh ” kehadiran sipil dan militer… yang permanen ” di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan “mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza.
Pemerintah Israel berpendapat bahwa akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan,” sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok, artinya Penghalang Tepi Barat Israel dan mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini.
Dengan rencana pemisahan diri sepihak, pemerintah Israel menyatakan bahwa rencananya adalah mengizinkan bangsa Palestina untuk membangun sebuah tanah air dengan campur tangan Israel yang minimal, sementara menarik Israel dari situasi yang diyakininya terlalu mahal dan secara strategis tidak layak dipertahankan dalam jangka panjang.
Banyak orang Israel, termasuk sejumlah besar anggota partai Likud — hingga beberapa minggu sebelum 2005 berakhir merupakan partai Sharon — kuatir bahwa kurangnya kehadiran militer di Jalur Gaza akan mengakibatkan meningkatnya kegiatan penembakan roket ke kota-kota Israel di sekitar Gaza. Secara khusus muncul keprihatinan terhadap kelompok-kelompok militan Palestina seperti Hamas, Jihad Islami atau Front Rakyat Pembebasan Palestina akan muncul dari kevakuman kekuasaan apabila Israel memisahkan diri dari Gaza.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s